Indonesia Tawarkan Potensi Kawasan Industri kepada Investor Rusia di INNOPROM 2026

Faktualpost.com Indonesia terus memperkuat promosi kawasan industri sebagai destinasi investasi global. Melalui ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menawarkan potensi kawasan industri nasional kepada pemerintah dan pelaku usaha Rusia sebagai pintu masuk pengembangan klaster industri internasional yang saling menguntungkan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan kawasan industri merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pemerataan industrialisasi sekaligus meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional.

“Pengembangan kawasan industri merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pemerataan industrialisasi sekaligus memperkuat daya saing manufaktur nasional. Kawasan industri memainkan peranan penting dalam mempercepat transformasi industri nasional melalui ekosistem yang terintegrasi guna mendukung hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional di tingkat global,” ujar Agus dalam sesi Business Talk – Panel Discussion: Dialogue between Russian and Indonesian SEZs/Industrial Estate: Regulatory Harmonization and the Development of International Industrial Clusters di Ekaterinburg, Rusia, Selasa (8/7).

Optimisme tersebut didukung kinerja kawasan industri yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, kawasan industri berhasil menarik investasi sebesar Rp6.744,58 triliun, tumbuh 9,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya, serta menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, menegaskan bahwa harmonisasi regulasi menjadi fondasi penting dalam menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif antara Indonesia dan Rusia.

“Harmonisasi regulasi antara Indonesia dan Rusia menjadi kunci untuk memastikan setiap investasi kawasan industri berjalan efisien, transparan, dan saling menguntungkan bagi kedua negara. Kami berharap dialog ini menjadi landasan kemitraan jangka panjang, tidak hanya dalam investasi, tetapi juga transfer pengetahuan dan pengembangan kapasitas kawasan industri,” kata Tri.

Baca Juga :  KAI Divre I Sumut Larang Masyarakat Buang dan Bakar Sampah di Rel Kereta Api

Forum tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, asosiasi kawasan industri, serta pengelola kawasan industri dari Indonesia dan Rusia untuk membahas peluang kerja sama investasi, pengembangan kawasan industri, hingga pembentukan klaster industri internasional yang saling terhubung.

Hingga triwulan II 2026, Indonesia memiliki 180 kawasan industri yang menampung hampir 12 ribu perusahaan (tenant). Pengembangannya dilakukan melalui empat pendekatan utama, yakni kawasan berteknologi tinggi, kawasan berbasis hilirisasi sumber daya alam, kawasan hemat air di luar Pulau Jawa, serta kawasan padat karya di Pulau Jawa guna meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional.

Untuk memperkuat daya tarik investasi, pemerintah juga menyediakan berbagai insentif fiskal maupun nonfiskal. Fasilitas tersebut meliputi kemudahan perizinan berusaha berbasis risiko, penetapan kawasan industri sebagai Objek Vital Nasional yang memberikan kepastian keamanan investasi, pemberian Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi sektor industri tertentu, program restrukturisasi mesin dan peralatan industri, hingga berbagai insentif perpajakan seperti investment allowance, tax allowance, super tax deduction untuk kegiatan riset dan pelatihan vokasi, serta pembebasan bea masuk mesin dan bahan baku melalui skema masterlist.

Selain itu, Indonesia juga menawarkan tingkat upah yang kompetitif di sejumlah kawasan industri sebagai salah satu daya tarik bagi investor sektor manufaktur.

Baca Juga :  MIND ID Kokohkan Fondasi ESG untuk Hilirisasi dan Masa Depan Berkelanjutan

Sebagai contoh keberhasilan pengembangan kawasan industri, Kemenperin memaparkan perkembangan Kendal Special Economic Zone (Kendal SEZ). Kawasan yang dikembangkan melalui kolaborasi Jababeka & Co. dan Sembcorp Urban Development Singapura tersebut menjadi salah satu kawasan industri dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.

Hingga 2025, Kendal SEZ telah mencatat investasi kumulatif sebesar Rp187,05 triliun dan menyerap lebih dari 76 ribu tenaga kerja. Saat ini kawasan tersebut dihuni 142 perusahaan dari berbagai negara, dengan sektor fesyen, otomotif, energi terbarukan, dan elektronika sebagai sektor unggulan.

Tingginya tingkat okupansi mendorong pengembangan Ecosystem Hub seluas 1.200 hektare yang akan mencakup pusat riset dan inovasi, kawasan industri berkelanjutan, kawasan komersial, serta permukiman terpadu.

Pengembangan tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 250 ribu tenaga kerja dengan tambahan investasi sekitar Rp370 triliun. Selain menyediakan infrastruktur industri yang lengkap, Kendal SEZ juga membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama dengan sejumlah politeknik vokasi serta digitalisasi pengelolaan kawasan industri.

Dialog mengenai harmonisasi regulasi ini melengkapi penandatanganan Nota Kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) dan Association of Clusters, Technology Parks and SEZs of Russia yang dilakukan sehari sebelumnya di Ekaterinburg. Kesepahaman tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kemitraan Indonesia dan Rusia dalam pengembangan kawasan industri, peningkatan investasi, serta pembentukan klaster industri internasional yang berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *